Dalam film The Truman Show, kita disuguhi kisah tentang Truman Burbank yang
tanpa sadar hidup dalam sebuah reality show raksasa. Sejak lahir, seluruh
kehidupannya direkam dan ditayangkan untuk jutaan penonton. Rumahnya palsu,
sahabat dan istrinya aktor, dan seluruh kotanya adalah set buatan. Truman
tumbuh besar tanpa tahu bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri, melainkan
konsumsi publik.
Sekarang, mari kita tengok realita kita hari ini. Dengan media sosial di genggaman tangan, apakah hidup kita benar-benar berbeda dari Truman?
Di era digital, eksistensi tak lagi ditentukan oleh keaslian, tapi oleh tampilan. Filter wajah, template hidup, dan estetika Instagram jadi alat utama membentuk "aku yang bisa dijual." Kita memoles diri demi sorotan. Kita unggah saat bahagia, sembunyikan saat hancur. Kita tulis kata-kata motivasi saat hati sendiri sedang kosong. Dalam diam, kita membangun panggung.
Media sosial mendorong kita untuk menjadi sutradara sekaligus aktor dalam "naskah hidup" kita sendiri. Kita merancang konten yang relatable, membungkus kesedihan dalam sinematografi, dan menjual personal branding sebagai tiket menuju validasi. Tren-tren seperti "sad girl aesthetic", "self-love ala selebgram", hingga "healing trip" jadi semacam format populer untuk tampil relevan.
Yang lebih mengkhawatirkan, penderitaan pun ikut dikomodifikasi. Banyak kisah sedih yang didramatisasi, air mata yang diatur, konflik yang disetting, demi konten yang menyentuh hati dan memancing simpati. Empati jadi algoritma. Kita menjual luka, dan audiens membeli kenyamanan lewat like dan komentar.
Namun, di balik semua itu, muncul kebingungan eksistensial. Saat kamera mati, siapa kita sebenarnya? Apakah kita tetap murah hati jika tak ada yang menonton? Apakah kita tetap produktif tanpa perlu dipamerkan? Ketika tak ada postingan baru, rasa takut dilupakan datang menghantui. Fear of Missing Out menjelma jadi dorongan untuk terus tampil, terus bersaing, terus eksis.
Pada akhirnya Truman sadar bahwa hidupnya dikendalikan dan memilih keluar dari dunia palsu itu. Tapi kita? Kita sadar bahwa dunia digital sering kali palsu, penuh tekanan, dan melelahkan. Tapi tetap saja, kita lanjut posting. Kita terus scroll. Karena mungkin, dalam reality show digital ini, kita bukan hanya korban. Kita adalah pemain utama sekaligus produsernya.
Pertanyaannya jika pintu seperti milik Truman ada di depanmu hari ini,
berani kah kamu keluar? Atau tetap memilih layar dan panggungmu sendiri, sampai
akhirnya lelah jadi tontonan?
Penulis : Rabiatul Adawiah
#RealityShowDigital #EksistensiDiEraDigital #ValidasiPalsu #LikeAdalahMataUang
#DigitalIdentityCrisis #TrumanShowEraModern
Komentar
Posting Komentar